Mengenang hari Pancasila
Kemarin 31 mei saya bersama Muhammad zulkarnaen
pergi ke sebuah museum pahlawan dan seniman legendaris di perpustakan daerah
Bandung. Ketika saya menemukan foto syarfruddin prawiranegara sedikit
menyinggung "siapa dia?"tanya nya kepada saya, saya menjawab "presiden singkat yang
banyak orang tak mengenal nya." tersenyum lah dan menjelaskan sedikit
berapa hari beliau memimpin Indonesia. Tak lepas dari itu saya hari ini teringat
pernah membaca majalah tempo yang saya curi dari perpustakaan x, dengan
edisi 3 agustus 1980 lalu ku cari lagi di tumpukan buku, akhirnya ku temukan majalah itu dengan
serpihannya namun sayang nya ada beberapa halaman yang hilang.
Saya pernah membaca sedikit dari cerita
syafruddin tentang tidak jadinya beliau menjadi khutbah idul Fitri dengan
beralasan katanya tidak bisa hadir,
Idul Fitri 1399 H yg jatuh pada juli 1980 lalu.
Ternyata pada artikel yang berjudul "tertib khutbah"
Membuat saya tak mengerti ternyata pada masa
itu sama seperti masa kini.
Begini kira-kira tulisanya
...
Menurut Brigjen Eddy Nalapraya, kastaf skogar Ibu kota, beberapa hari sebelum idul Fitri, pihak keamanan menerima laporan adanya
rencana pengacuan di beberapa tempat pada saat idul Fitri berlangsung. Sehubung dengan itu sepihak skogar menaruh
perhatian pada 3 dari 106 khatib yang akan ber khutbah yaitu, A. M. Fatwa,
Syafruddin Prawiranegara , dan bung Tomo. Alasannya khutbah mereka memancing
masyarakat. Untuk mencegah terjadinya keonaran menurut kolonel Agus, asisten
intelijen kodam V Jaya , pihaknya telah meminta pada panitia penyelenggara
shalat tempat bertiga orang itu akan ber khutbah, agar teks nya khutbah diserahkan sebelum di
ucapkan. Teks khutbah syafruddin, setelah berkali-kali diminta akhirnya di
serahkan juga. Isi menurut alamsyah
"80% mengenai soal-soal politik. "
...
Menurut kolonel Agus, khutbah syafruddin yang akan di ucapkan
selaku khatib di pasar rumput menyinggung masalah Pancasila dan UUD 1945 yang
bisa menggelisahkan masyarkat. Judulnya
" kembali kepada Pancasila dan UUD 1945." pihak laksusda meminta agar
masalah -masalah politik itu di hapuskan.
Syafruddin menolak. Panitia
kemudian meminta agar dia membatalkan khutbahnya dan menggantikan syafruddin
dengan khatib lain.
A. M Fatwa,
calon khatib di lapangan Urip Sumoharjo,
jatinegara, juga menolak
memberikan teksnya. Akhirnya panitia setempat menggeser thatib menjadi
Imam, sedang tugas khatib di ganti oleh
Kosim Nursaha Notowardoyo dari dinas pembinaan mental TNI -AD. Tapi keributan
terjadi juga.
Menurut pihak laksuda, keributan di mulai oleh fatwa sendiri yang
sebelum mengimami sembahayang berteriang lantang memperkenalkan Dirinya yang
batal menjadi khatib karena dilarang pihak yang berwajib.
Begitu Kosim Nurseha naik mimbar, teriakan- teriakan mulai terdengar menyuruh
dia turun dan agar fatwa naik. Beberapa
benda dilempar ke arah khatib.
"Berbagi caci di tunjukan pada saya, tapi saya meneruskan khutbah sampai selesai.
" tutur Kosim. Sementara dia berkhutbah itulah sebagian massa yang
ditaksir berjumlah 18 ribu orang berusaha mendekati mimbar, tapi dicegah para petugas keamanan dengan
tembakan keatas.
Mengenai kasus bung Tomo yang menjadi khatib di
Tamong Plaza... Keributan terjadi tatkala pengeras suara mendadak macet waktu
sekitar khutbah dibacakan. Massa rakyat
yang tampaknya ingin mendengarkan khutbah lebih jelas kemudia menyerbu
mendekati mimbar, namun dihalau oleh
para petugas keamanan. Terjadi
kesalahpahaman : massa mengira khatib disuruh menghentikan khutbahnya. Khutbah akhirnya di akhiri dengan dia, tapi suasana ribut terjadi lagi tatkala massa
berebut menyalami khatib. "Dua
petugas-atas permintaan saya lalu menggandeng. Saya keluar dari kerumunan
massa, " cerita Bung Tomo.
Mentri agama Alamsyah menyatakan sangat
menyesalkan kejadian itu. Dia meminta
masyarakat terutama umat islam agar memahami kejadian itu dengan dewasa. ABRI dan pemerintah, menurutnya,
sama sekali tak berniat memusuhi umat islam . "Saling pengertian
antara umat islam fan pemerintah yang selama ini sudah terjalin baik jangan
sampai rusak karena kesalah pahaman kecil serupa itu. " katanya...
Beberapa lembar dari artikel hilang ntah kemana
serpihannya. Saya masih berpikir bahwa pak syafru masih memikirkan Negara dengan serius di usia 70 tahun. Lalu bagaimana mungkin pak syarfu ingin
meruntuhkan negeri yang sudah di jaga nya dengan susah payah? Yang mempertaruhkan nyawanya waktu di usia
muda?
"Orang yang mencintai Indonesia mengangku
warga pancasila takan pernah lupa dengan sejarah Indonesia, Negara yang maju
takan Pernah melupakan sejarahnya. "
-Dewi mutiara

Komentar
Posting Komentar